Powered By Blogger

Rabu, 06 Mei 2015

Putra ke-3

Alhamdulillah hari Ahad malam Senin, 19 April 2015 bertepatan dengan dimulainya bulan Rajab 1436 H pukul 11.25 WIB putra yang ke-3 kami lahir dengan selamat. Pada detik-detik awal kelahirannya ia tidak langsung menangis namun beberapa menit kemudian barulah suara lembut mungilnya membuncah. Alhamdulillah ia bisa menyapa dengan suara yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Kami sambut kehadirannya dengan kumandang adzan dan iqamah dilanjutkan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an, do'a dan dzikir. Sementara itu rasa kesakitan dan kepayahan yang dialami adinda masih nampak dirasakannya. Laa haula walaa quwwata illaa billah. "Selamat ya bu, mudah-mudahan jerih payah dan ketabahanmu menjadi nilai ibadah, jihad fii sabilillah dan menjadi saksi akan ketulusan hatimu!, amiin." Ibu bidan yang membantu jalannya prosesi kelahiran itu terus membimbing dengan telaten, meski saya tak henti-hentinya menyambut kehadiran sang buah hati itu dengan lantunan-lantunan doa dan dzikir. Nampaklah ketenangan, kenyamanan sang bayi dan sang ibu setelah keduanya sama-sama berjuang. Ya Allah puji syukur atas segala rahmat dan nikmat yang telah engkau anugerahkan kepada kami, Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada baginda Nabi Agung Muhammad saw. Amiin. Ya Allah bimbinglah kami untuk bisa menjaga amanat ini dengan sebaik-baiknya. Kuatkanlah jiwa raga kami, lahir bathin kami untuk senantiasa menunaikan kehendak-Mu, membimbing dan mendidik keluarga kami, keturunan kami sesuai dengan ajaran dan syari'at-Mu, menuju keridhaa-Mu. Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaattina Qurrata a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa. Allaahumma baariklanaa fii rajaba wa sya'bana wa ballighnaa ramadhaan". Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya'ban ini dan sampaikanlah kami untuk bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan mendatang. Aamiin yaa Rabbal Aalamiin (el-Abat)

Sabtu, 18 April 2015

Hujan Ikut Menemani

Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan saat ia dan anaknya berangkat ke masjid. Sambil menggoes sepeda kecil, anaknya yang telah mendahului langkah ayahnya berteriak "Ayah belok ke mushala atau terus?! (ke masjid)". "Terus saja, di mushala sepi tidak ada yang datang" jawab sang ayah. Sekejap kemudian anaknya membelokkan sepedanya menuju masjid.
Baru saja sampai di masjid itu tiba-tiba turun hujan. Bersegeralah mereka naik ke lantai dua ruang utama tempat shalat ditunaikan. Sambil berharap mudah-mudahan kali ini ada jamaahnya sang ayah menggandeng puteranya yang berusia lima tahun tujuh bulan itu dengan penuh hati-hati. "Ayah, ada orangnya!" dengan sepontan si anak memberitahu ayahnya sambil menunjuk beberapa sandal yang berjejer di depan pintu masjid. "Ia tuh... Alhamdulillah. Ayo masuk de, kita segera ikut jamaah!"


Selasa, 14 April 2015

Menggapai Ridha Allah

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Qs Al Baqarah (2) : 207)

Kata Kunci:
Ridha kepada Allah, ridha dengan Islam 
dan ridha kepada Nabi Muhammad saw.

Asbabun Nuzul
Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Sa'id bin al-Musayyab, Abu Utsman an-Nadi, Ikrimah dan sejumlah ulama mengatakan bahwa ayat tersebut turun bekenaan dengan seseorang yang bernama Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi. Saat itu ia telah masuk Islam dan hendak berangkat hijrah ke Madinah namun ia mendapat tekanan dari para pemuka Quraisy. Keberangkatannya dihalang-halangi, ia tidak diperkenankan hijrah melainkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya harus diserahkan kepada mereka tanpa tersisa sedikitpun. Maka tanpa ragu-ragu ia tinggalkan seluruh harta kekayaannya di Mekah. Dan dengan mantap ia berangkat ke Madinah demi mengharap ridha Allah. Kemudian ia bertemu dengan Umar bin Khattab dan sekelompok sahabat di ujung daerah Hurrah. maka mereka berkata kepadanya: "Perdagangan yang beruntung." Ia berkata: "Dan juga kalian, semoga Allah tidak menyia-nyiakan perdagangan kalian. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah saw. beliau memujinya dengan ungkapan yang masyhur: “Rabihal bai'u Shuhaib" Perdagangan yang paling beruntung adalah perdagangan Shuhaib.

Ridha kepada Allah Di antara wujud ridha terhadap Allah sebagai Tuhan adalah ridha terhadap semua perbuatan-Nya dalam semua urusan makhluk-Nya, baik itu berupa pemberian dan penolakan, penurunan dan pengangkatan, mudarat dan manfaat.
Ridha kepada Islam Berpegang teguh kepada semua perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya dan menerima semu hukum-Nya walaupun kadang bertentangan dengan hawa nafsu dan tidak sesuai dengan maslahat pribadi.
Ridha kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Menjadikan kepribadian beliau sebagai idola dan suri teladan, mengikuti petunjuk beliau, menelusuri jejak beliau, berhias dengan sunah beliau, berjihad memerangi hawa nafsu supaya semua keinginannya sesuai dengan ajaran yang beliau bawa, dan mencintai beliau melebihi cintanya terhadap orangtuanya, anaknya, dirinyasendiri dan semua umat manusia.

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintaiku melebihi cintanya kepada orangtuanya, anaknya, dan seluruh umat manusia.” (HR.Bukhari)

Daftar Bacaan

Furi, Syaikh Shafiyyur al Mubarak, Tafsir Ibnu Katsir (Judul Asli: Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsiir, Penerjemah: Abu Ahsan Sirajuddin), Bogor: Pustaka Ibnu Kastir   
Qadir, Abdul, 2005. "Hakekat Tasawuf" (judul Asli: Haqaiq at-Tasawwuf, Penerjemah: Khairul Amru Harahap), Jakarta: Qishi Press

Sabtu, 04 April 2015

Muhammad Umar Al Fatih

Ia diharapkan akan menjadi seorang yang terpuji bisa menjadi panutan hidup sebagaimana kepribadian Rasulullah saw. Ia diharapkan akan menjadi seorang yang pemberani tegas, sederhana dan adil dalam membela kebenaran laksana sayidina Umar bin Khattab. Ia juga diharapkan akan menjadi seorang pemimpin yang cerdas, tangkas dan  ahli ibadah laksana raja Mehmet II yang tidak pernah meninggalkan shalat fardlu, shalat sunnah rawatib dan shalat tahajjud sejak baligh. Rasulullah saw. bersabda: "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Senin, 30 Maret 2015

Umar bin Khattab

Biografi
Umar bin Khattab adalah khalifah kedua khulafaurrasyidin (634-644). Beliau putra dari Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riba’ah bin Abdullah bin Khart bin Razaah bin Adi bin Ka’ab. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin Al-Mughirah. Ia seorang pemberani, berkepribadian teguh dan berwatak keras.

Proses Pemilihan 
Diangkatnya Umar bin Khattab menjadi khalifah adalah melalui penunjukkan oleh khalifah Abu Bakar setelah mendapatkan persetujuan dari para sahabat besar.

Prestasi 

1) Memperluas daerah kekuasaan Islam;
2) Membentuk dewan perbendaharaan negara dan dewan militer;
3) Membagi wilayah pemerintahan; pemerintahan pusat dan daerah;
4) Menetapkan penanggalan hijriah
5) Memperluas Masjidil Haram
6) Membuat undang-undang ketertiban pasar, ukuran timbangan jual-beli, kebersihan jalan

Wafatnya Khalifah Umar bin Khattab
Dalam usia 63 tahun khalifah Umar tutup usia. Tepatnya pada tahun 23 H/644 M. Adapun penyebab kewafatannya adalah karena beliau dibunuh oleh Abu Lu'luah Al-Majusi mantan budak Persia.

Wasiat Umar bin Khattab sebelum beliau wafat:
1.    Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2.   Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu.Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3.   Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorangmanusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembutkepadamu selain Allah.
4.   Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia.Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5.   Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jikaengkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
6.   Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkautidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya


Upaya dan Ragam Manusia

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang maka dia akan berteriak: "Celakalah aku." Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (QS. 84: 6-15)

Digambarkan oleh Allah dalam ayat tersebut bahwa siapa orangnya yang telah bekerja dengan kesungguhan untuk menuju Tuhannya maka ia akan menemui-Nya.

Merenungi QS. Al-Insyiqaq

Al-Insyiqaq

Surat ini terdiri atas 25 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah (surat yang diturunkan di Mekah), diturunkan sesudah surat Al-Infithaarr. Dinamakan Al Insyiqaaq (terbelah), diambil dari kata Insyaqqat yang terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah insyiqaaq.

Pokok-pokok isinya:
1) Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada permulaan hari kiamat;
2) Peringatan bahwa manusia bersusah payah menemui Tuhannya;
3) Kelak dalam menemui Tuhannya, manusia ada yang mendapat kebahagiaan dan ada pula yang mendapat kesengsaraan;
4) Tingkat-tingkat kejadian dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

"Apabila langit terbelah. Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Dan apabila bumi diratakan. Dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya) (QS.84:1-5)

Dalam ayat tersebut peristiwa  hari kiamat digambarkan oleh Allah swt. dengan hancurnya alam semesta ini. Yakni dengan terbelahnya langit. Langit tunduk atas apa yang telah dititahkan Allah kepadanya. Demikian juga bumi siap mengikuti apa yang telah diperintahkan kepadanya. Bumi dititahkan untuk menghempaskan semua isinya. Ia kemudian menjadi rata, segala apa yang ada di dalamnya baik itu manusia, binatang, pepohonan, gunung dan lain sebagainya terlempar dan akhirnya menjadi kosong. Pada saat itu menusia akan mengetahui apa yang telah diperbuatnya dan dimintai pertanggungjawabannya.