Selasa, 01 Mei 2012

Pemikiran Muhammad Rasyid Ridha


Pemikiran Muhammad Rasyid Ridha
(Seorang Pengagum dan Penerus Al-Afghani dan Abduh)

A.   Biografi Singkat
Muhammad Rasyid Ridha lahir di al-Qalamun di pesisir Laut Tengah pada tanggal 23 September 1865 M. Dan dia wafat pada tahun 1935 M. Ia masih keturunan Nabi Muhammad saw. dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Pendidikannya dimulai di Madrasah al-Kitâb di al-Qalamun kemudian dilanjutkan di Madrasah al-Rasyidiyyah di Tripoli. Pada usia 18 tahun ia melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Wathaniyyah al-Islâmiyyah[1], kemudian melanjutkan di al-Azhar pada tahun 1898 M.

B.   Peranan Muhammad Rasyid Ridha
Muhammad Rasyid Ridha sangat mengagumi pemikiran dan gerakan Jamaluddin al-Afghani serta seorang muridnya, Muhammad Abduh. Melalui majalah al-’Utwatul Wuśqa, Ridha mengenal pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani serta muridnya tersebut. Sejak itu ia ingin sekali bertemu dengan kedua idolanya tersebut agar ia bisa menimba pengalaman dari keduanya. Ia sempat ingin bergabung dengan al-Afghani saat tokoh ini menetap di Istambul, tetapi niat itu tidak pernah tercapai. Sewaktu Abduh diasingkan ke Beirut, kesempatan itu dipergunakan oleh Rasyid Ridha untuk menemuinya. Semenjak itu ia lebih mengenal Abduh bahkan menjadi salah satu murid setianya.
Bersama-sama Abduh, Rasyid Ridha menerbitkan majalah al-Manâr. Majalah ini memiliki tujuan yang sama dengan ’Urwatul Wuśqa, di antaranya adalah pembaruan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, memberantas khurafat dan bid’ah, menghilangkan faham fatalisme, serta faham-faham yang dibawa tarekat.
Rasyid Ridha juga berjasa besar dalam melanjutkan usaha gurunya dalam penafsiran al-Qur’an secara modern. Tafsir iu kemudian dikenal dengan nama Tafsir al-Manâr. Tafsir al-Manâr ini disusun Rasyid Ridha berdasarkan ceramah-ceramah Muhammad Abduh. Sebelum menyelesaikan tafsir seluruh ayat al-Qur’an, Muhammad Abduh meninggal dunia. Oleh karenanya Rasyid Ridha kemudian menyelesaikannya.

C.   Pemikiran Pembaruan Muhammad Rasyid Ridha
Di antara pemikiran-pemikiran Muhammad Rasyid Ridho adalah:
1)     Sikap aktif dan dinamis di kalangan umat.
2)     Umat Islam harus meninggalkan sikap fatalisme (jabariyyah).
3)     Akal dapat dipergunakan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an ataupun hadis tanpa meninggalkan prinsip umum.
4)     Jika ingin maju, umat Islam harus menguasai sains dan teknologi.
5)     Kemunduran umat Islam disebabkan oleh banyaknya unsur bid’ah dan khurafat yang masuk ke dalam ajaran Islam.
6)     Kebahagiaan di dunia dan di akhirat diperoleh melalui hukum alam yang diciptakan Allah.
7)     Perlunya menghidupkan kembali sistem pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
8)     Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia Islam yang menguasai bidang agama dan politik.
9)     Khalifah harus seorang mujtahid besar yang dibantu para ulama dalam menerapkan prinsip-prinsip hukum Islam sesuai dengan tuntutan zaman.


[1] Madrasah ini didirikan oleh Syaikh Husain al-Jisr (1845-1909), seorang mufti besar Tripoli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar